Opini Publik

Hentikan 80 Juta yang Viral, Tegakkan Keadilan Bagi Perempuan

Penulis : Icha Putri Angrainy Baharuddin


Rasanya malu seorang wanita menulis dan membahas topik ini, tapi lebih miris jika seorang wanita hanya menjerit dalam hati, miris melihat  kebanyakan media bahkan acara di TV membahas tentang 80 juta. Apakah itu 80 juta? Harga apakah itu? Banyak pertanyaan pertanyan begitu begini bermunculan dan lebih mirisnya lagi  banyak yang menjadikannya sebagai lelucon.

Apakah sebenarnya yang terjadi dengan mereka, mengapa kasus seperti ini harus diumbar atau bahkan  diviralkan dan terpampang nyata di depan media tanpa ada sensor, bahkan namanya tidak menggunakan nama inesial untuk si korban ( perempuan) dan untuk  si pelaku (laki laki) di berikan nama inesial bahkan di sensor.

Kenapa harus perempuan yang diviralkan tanpa nama inesiaal, saya kira dia korban kenapa harus laki laki yang di lindungi ? apakah karena mereka penguasa ? atau apakah karena media kebanyakan laki laki?, makanya mereka malu mengumbarnya ?. Dari sekian kasus  seperti ini, saya meliat di media ada tersirat didalamnya ketidak adilan terhadap wanita bahkan sebagai korban dari pelecehan seksual, dia juga bahkan menerima ketidak adilan dan lebih parahnya lagi di masyarakat sekarang seolah membiarkan fenomena ketidak adilan terhadap wanita menjadi hal lumrah, dan lebih mirisnya lagi konsepsi tentang perempuan yang sudah mendarah daging dalam pikiran masyarakat umu bahwa wanita memang hakikatnya lemah, hanya pemuas nafsu dan hanya menjalankan fungsi di dapur, kasur dan sumur. 

Ketika terjadi hal demikian, kita kadang mencari dimana mereka yang sering teriak –teriak di jalan raya, depan gedung-gedung tinggi untuk meminta keadilan yang katanya mereka aktivis, lalu kenapa mereka tidak pernah muncul jika ada pelecehan  dan penindasan pada perempuan  atau mungkin mereka memilih diam dan menonton bahkan menjadikanya sebagai lelucon kemudian di viralkan ? I don’t Know, mudah-mudahan tidak.

Stigma atau pemikiran tentang perempuan atau gender harus diubah, seperti konsep gender menurut Mansour Fakih dimana gender adalah suatu konstruksi sosial di mana laki-laki dan perempuan memiliki kiprah dalam kehidupan sosial, sehingga perempuan tidak hanya dijadikan makhluk subordinat dari laki-laki yang peran sosialnya tidak diberdayakan secara lebih luas. Dominasi laki-laki terhadap perempuan di berbagai bidang, terutama di bidang pendidikan dan sosial masyarakat adalah merupakan ketidakadilan gender.

Hal ini yang harusnya dibahas dan diselesaikan untuk menciptakan kepastian hukum bagi perempuan sehingga tidak terjadi ketidak adilan terhadap kaum perempuan, inilah yang harusya dibahas oleh public atau bahkan calon kepala negara, bukan hanya membahas berapa jumlah perempuan yang duduk dipartai politik atau di kabinet.

Sehingga perempuan merasakan keadilan dinegeri ini, sikap masyarakat umum terhadap perempuan harus diperhatikan dengan baik, dengan memviralkan sesuatu yang bersifat positif, media juga demikian harus bergerak berdasarkan etika dan aturan-aturan yang berlaku. Kemudian berbagai struktur fungsional yang ada di negara ini harus bersikap dengan tegas, seperti aktifis perempuan/gender, komisi perlindungan anak dan perempuan serta kementrian kominfo juga harus sigap dalam melihat konten disosial media yang sedang viral.

Kita sama-sama berharap fenomena 80 juta tidak terung kembali dinegeri ini, keadilan dan perlindungan hukum harus ditegakkan oleh pihak-pihak yang berwenang atau pihak yang sudah diamanahkan dan digaji oleh negara. Terakhir, ketika ada ketidakadilan dan penjajahan terhadap wanita maka kata perlawanan akan menjadi lawannya.

*) Penulis adalah Alumni Jurusan Pendidikan Dokter Universitas Gajah Mada

Editor : Yayat

Comment here