Opini Publik

Indonesia Butuh Relawan

Penulis : Hajra Yansa,

Memasuki usia dewasa pola pikir kian berubah, meninggalkan egosentris menuju dunia kebermanfaatan. Itulah titik balik yang mendasari seseorang, puluhan orang bahkan ribuan menerjunkan diri pada dunia kerelawanan, pada dunia yang menggalang relasi kemanusiaan. Dengan dasar pemikiran bahwa bumi ini bukan  di huni oleh diri kita saja, dunia ini bukan berbicara tentang diri kita melulu tapi  berbicara perihal sesama. Menghirup oksigen bukan hak diri kita semata  tapi seluruh makhluk hidup di bumi.

Menyadari jiwa kerelawanan yang mesti tumbuh dan mekar dalam diri manusia Indonesia, para founding fathers negara Indonesia merumuskan Ideologi Negara “Pancasila” yang dijunjung dan dijadikan pedoman dalam bermasyarakat. Sejelas-jelasnya dalam butir 2 (satu) sampai 5 (lima)  menerangkan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyarawatan Perwakilan dan Keadilaan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” Suara pancasila terus kita gemakan  setiap hari senin pada upacara bendera. Jika sekarang kita duduk di bangku mahasiswa berarti 12 (dua belas) tahun sudah kita menggemakannya. Dan jika hari ini kita masih memikirkan dunia kita semata, lantas dimana kebermaknaan dan urgensinya?

Menyambung hal tersebut, Bangsa Indonesia pun memiliki cita-cita luhur yang harus selalu diperjuangkan dan diwujudkan,  termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah dara Indonesa, memajukan kesejakteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanaknan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sejarah kemerdekaan negara kita terus menerus berbicara kemerdekaan tidak lahir begitu saja namun lahir dari persatuan bangsa Indonesia, dari perjuangan bersama masyarakat Sabang sampai Merauke.

INDONESIA BUTUH RELAWAN !!!

MANUSIA INDONESIA mesti menumbuhkan dan memekarkan hatinya dengan jiwa kerelawanan.Sudah saatnya kita meninggalkan dunia hedonisme menuju dunia kerelawanan. Menyikapi bencana yang terus menerjang bumi pertiwi, Indonesia harus berbenah.  Kesiapan Indonesia menghadapi bencana harus ditingkatkan dalam dua hal yaitu pra bencana  dan pasca bencana. Manausia Indonesia harus siap tanggap dengan jiwa kerelawanannya terjun membantu korban bencana pasca bencana berlangsung. Karena faktanya Negara Indonesia berada dikawasan cincin api. Kawasan yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. Selain berada di zona cincin api Indonesia juga berada di sabuk Alpide yang merupakan jalur gempa paling aktif nomor dua di dunia, yang turut menyumbang faktor rentan gempa bumi Indonesia. Lalu ada juga tumbukan tiga lempeng benua, yaitu lempeng Indo-Australia dari selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari Timur (Kumparan.com).

Tercatat bencana alam yang melanda di tahun 2018 hingga januari 2019: Gempa bumi Lombok, tsunami likuifaksi dan gempa bumi Palu, tsunami Banten dan Lampung, banjir bandang Padang, dan yang masih hangat dalam pemberitaan media yaitu banjir bandang Gowa dan Makassar  Sulawesi Selatan serta bencana-bencana laiinnya. Medan juang kerelawanan pun bukan sebatas dalam lingkup penanganan bencana namun ada banyak realita di negeri ini yang membutuhkan uluran tangan relawan.

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan jiwa kerelawanan?

Selain menggerakan pemuda/i Indonesia, jiwa kerelawanan pun mesti dan mesti terpatri, disimpul dalam diri anak-anak sebagai generasi penerus bangsa ini. Dunia pendidikan akan menjawab, pendidikan karakter secara komprehensif harus terus digaungkan bagi peserta didik di sekolah, di rumah dan di masyarakat. Dunia pendidikan harus bangkit  mencetak dan mempersiapkan relawan sedini mungkin. Sekolah harus  merancang program yang muaranya pada keringanan tangan peserta didik. Beberapa sekolah telah menerapkan program Jumat berbagi dan 1 hari 1 kebaikan serta program laiinnya. Dan satu hal yang terpenting yaitu KETELADANAN pendidik. Guru sebagai pendidik di sekolah, orang tua sebagai pendidik di rumah dan masyarakat sebagai pendidik di miniatur kecil negara adalah role model anak. Proses ini berlaku pengimplementasiannya oleh masyarakat pedesaan dan perkotaan.

Berpikir jauh menuju tahun 2045, tahun emas untuk bangsa ini tepatnya seabad kemerdekaan Indonesia. pada tahun itu diprediksi, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045 (Yulianti: 2017).

Untuk menyambut bonus demografi yang 26 tahun lagi akan terjadi, inilah zaman  penentu pencetakan generasi emas tersebut. Semangat gotong royong dan partisfatif itu perlu dipupuk kembali seiring perkembangan zaman. Indonesia milik kita bersama, apapun pekerjaan kita dan dimanapun,  ayolah tinggalkan hedonisme dan terjun dalam dunia kerelawanan. Mari jadi relawan dan teladan agar anak-anak dapat mencontoh. Karena peniru ulung itu adalah anak-anak.

*) Penulis adalah Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Penempatan Indramayu Jawa Barat

Sumber:

Kumparan SAINS. 2018. Mengapa di Indonesia Sering Terjadi Gempa? https://kumparan.com/@kumparansains/mengapa-di-indonesia-sering-terjadi-gempa-1538383191480141053.

Yulianti, Rizkia. 2017. Generasi Emas Produktif, Indonesia Siap di Tahun 2045

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/11/21/indonesia-bisa-lahirkan-generasi-emas-bukan-micin.

Comment here