Massenrempulu

Politisi Muda; Perbaiki Niat ta’! Oleh : Muh. Iqbal

Suaramaspul.com, Makassar – “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda” – Tan Malaka. Tapi, entah dengan politisi muda.
Bahwa perasaan senasib sepenanggungan sebagai pribadi dan bangsa yang terjajahlah yang mempertemukan pemuda pada Kongres Pemuda Kedua kemudian merumuskan Tanah Air, Bangsa, dan Bahasa yang satu. Setelah 90 Tahun, peristiwa itu telah menjadi mitos kebangsaan. Mitos yang sejauh ini mampu menjadi perekat momentuman dalam pelbagai kerunyaman kita sebagai negara bangsa. Perayaan tiap tahunnya pun kerap menjadi ajang gagah-gagahan anak muda, untuk refleksi katanya.
Ada yang mendiskusikannya dalam simposium nasional, beberapa yang lain turun ke jalan bak hero, ada yang mendaki puncak-puncak tertinggi dengan niatan membaca Sumpah tersebut di titik tertingginya, dan beberapa kegiatan “keren” lain. Dua atau tiga hari setelah kegiatan-kegiatan itu, perasaan heroik dan semangat berapi-api akhirnya lenyap bersamaan dengan hilangnya rasa lelah, kehidupan kembali normal dan sampai jumpa refleksi tahun depan.
Meskipun menganggap rangkaian-rangkaian seperti yang di atas adalah hal paling basa-basi. Satu hal konkret dari sebuah perayaan menurut penulis adalah kita percaya dan menghargai waktu yang tidak akan pernah kembali.
Begitupula dengan 73 Tahun lalu, tentang penculikan tokoh tua oleh tokoh muda. Dengan alasan bahwa tokoh tua yang lamban perlu didesak. Yang pada saat itu golongan muda banyak mendapat pendidikan dari golongan tua. Sesuatu yang cukup luar biasa dalam pandangan ketimuran kita, beberapa orang murid akhirnya harus bertindak kasar terhadap guru-gurunya karena silang pendapat dan demi kepentingan bangsa. Sejarah mencatatnya sebagai peristiwa Rengasdengklok.
Emosi dan semangat pemuda saat ini tentu tidak sama dengan pemuda waktu itu. Lingkunganlah yang memaksa pemuda dimasa pra dan awal kemerdekaan untuk lebih berani terhadap orang-orang tamak yang berdatangan. Berbeda dengan kita hari ini, meskipun orang-orang tamak masih ada, bertambah banyak dan dalam wujud yang berbeda-beda namun emosional dan semangat tersebut tidak lagi sama. Kenapa demikian ? karena dampak secara langung yang tidak dirasakan. Sayang, perlawanan memang tidak selamanya atas dasar tanggung jawab moril tapi kadang hanya karena terdesak atau mungkin terjebak.
*
Menjelang Pemilihan Umum 2019, ada sesuatu yang tidak hanya heroik tapi juga puitis dan menjadi kebanggan. Adalah tentang menjamurnya calon-calon legislator yang tergolong pemuda dalam kontestasi pemilihan dewan. Patut menjadi kebanggan karena kita selalu percaya akan spirit dan semangat yang ada pada pemuda, sang penunggang gelombang. Mereka tentu penuh dengan ide-ide kreatif nan inovatif, ditambah pengalaman pernah menjadi aktivis mahasiswa, program-program yang direncanakan pasti akan mengutamakan hal-hal yang inklusi dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Konstituen yang pernah mendengar akan militansi seorang aktivis mahasiswa tentu menganggap ini adalah angin segar perbaikan dan kemajuan. Secara pribadi, jika harus membandingkan antara politisi muda meskipun baru, dengan caleg tua yang sudah menjabat berkali – berpengalaman, penulis lebih menjatuhkan pilihan kepada politisi muda, mengingat belum ada hal konkret yang di jalankan oleh yang lalu-lalu (baca : asumsi untuk kinerja anggota DPRD di daerah penulis). Disamping itu, dijaman serba digital seperti sekarang, mereka yang tergolong pemuda tentu lebih dekat dan lebih mampu memanfaatkan teknologi dibanding politisi tua yang hanya bermodal nama keluarga besar serta modal besar. Tidak bisa dipungkiri, pengalaman birokrasi perwakilan rakyat di banyak tempat sejauh ini dengan tokoh yang itu-itu saja tidak pernah menjadi bagian dari tumpuan masyarakat kecil. Wajar saja, jika penulis atau mungkin pembaca kerap mendengar anekdot seperti ini “kita hanya perlu menunggu yang tua mati, agar semuanya bisa diperbaiki”.
Beberapa hal diatas adalah sebagian kecil dari kekuatan politisi muda untuk terterima di hati masyarakat, tapi sejauh mana mereka – politisi muda, dapat diharapkan ?. Pertanyaan ini tidak boleh kita abaikan begitu saja dengan berkata, kita akan menunggu kinerja mereka atau dengan retorik “memilih yang terbaik diantara yang buruk”. Ada asumsi-asumsi yang tidak boleh kita tanggalkan sebelum benar-benar menjatuhkan pilihan.
Seperti Pertama, Partai Politik sejauh ini telah dikuasai oleh pemilik modal. Singkatnya, segelintir pemodal dalam partai politik berdampak pada partai sebagai jalan termudah untuk masuk dalam pemerintahan, demi berpartisipasi dalam pembangunan nasional menjadikan Parpol dari yang dulunya tidak bertaring menjadi ompong. Karena kemenangan dalam pemilu akan dimanfaatkan oleh pemodal untuk eksploitasi lebih dan menguasai setiap sumber daya yang ada. Setiap bentuk pembangunan yang dilakukan, selalu atas dalih kemakmuran rakyat padahal kenyataannya hanya agar usaha dari pemodal tersebut tetap berjalan.
Selanjutnya, Politisi muda sekalipun berusaha konsisten dengan idealismenya, sulit untuk berdiri secara pribadi menentukan sikap dalam parlemen. Cukup terang bahwa dalam hal keberpihakan, politisi mesti taat dan tunduk pada keputusan partai. Meskipun keputusan partai tidak sesuai dengan nuraninya. Ditambah tidak adanya ruang terbuka bagi politisi muda untuk bermanuver, dengan alasan mesti mendahulukan anggota partai yang lebih senior.
Terakhir, dan mari mempertegas pertanyaan sejauh mana politisi muda dapat diharapkan. Menurut pengamatan penulis, pemuda-pemudi yang mendaftarkan diri sebagai caleg pada pemilu 2019 ini adalah mereka yang mempunyai latar belakang seperti berikut ; 1). Anak Pengusaha. 2). Anak dari keluarga birokrat, dan 3). Pemuda yang di sounding oleh tokoh politik tertentu karena pengabdiannya. Meskipun tidak ada yang pernah memilih dilahirkan di rahim siapa, namun keadaan yang tak jauh beda dari yang sebelumnya, sangat mudah terjadi.
Lalu kemana para petani dan masyarakat adat memohon pertolongan, saat sawah terakhipun telah digali atau ditimbun, dan saat tanah ulayat yang dikelola secara komunal dirampas oleh korporasi ? Dan siapa yang bertanggung jawab kepada dapur ibu-ibu pesisir yang tak lagi berasap, serta ratusan anak-anak nelayan yang terancam putus sekolah ? Si bapak pelaut tak lagi membawa pulang ikan, Ikan-ikan dilautan telah lari jauh ke tengah samudera karena alat penghisap pasir laut telah merusak karang tempat ikan berkembang biak. Jika tak ada wakil rakyat yang mampu mengatasi ini, sampai langit ini runtuh, konflik horizontal hingga kekerasan dalam rumah tangga tetap terjadi di sekitar kita.
Tapi bagaimanapun, asa akan tetap kita layangkan. Dengan tetap yakin kepada politisi muda yang jiwa sosialnya cukup tinggi dibanding yang lain. “Semoga tak sekedar berutopi jika memimpikan politisi muda atau orang-orang baik yang terpilih di parlemen nantinya, dapat saling menemukan hingga berkelompok yang tidak punya sangkut paut dengan partai masing-masing. Dan beramai-ramai menentang kebijakan yang merugikan masyarakat”.
Sebagai penutup, ayo politisi muda kalianlah sang penunggang gelombang, harap kami, antar gelombang ini dengan baik ke bibir pantai tanpa menimbulkan abrasi.

Comment here