Uncategorized

EKSISTENSI MEDIA CETAK PADA ERA DIGITAL

Penulis : Samsiar

Media cetak adalah media dalam bentuk segala sesuatu yang dicetak, tidak hanya koran, tabloid, atau majalah. Tapi juga termasuk pamflet, flyer, banner, baliho, poster, hingga giant poster. Media cetak berawal dari ditemukannya huruf, yang merupakan penemuan/revolusi terbesar dalam dunia konten, dan ditemukannya “koran” pertama yang ditulis atau lebih tepatnya dipahat diatas batu.

Menurut beberapa pendapat penemuan ini merupakan revolusi yang sama besarnya dengan penemuan tulisan itu sendiri. Kemudian, berkembang sistem percetakan dengan menggunakan tanah liat, hingga kemudian diperbaharui oleh korea dengan sistem percetakan dengan menggunakan logam.

Akan tetapi, sistem-sistem tersebut dianggap kurang efesien sehingga Johannes Gutenberg berusaha untuk menyempurnakan semua sistem cetak tersebut sehingga diciptakan sistem percetakkan yang lebih ekonomis pada tahun 1455.

Media cetak terus berkembang seiring berkembangnya teknologi, sehingga kini dapat ditemukan berbagai ragam bentuk media cetak yang sudah jauh sekali dari bentuk awalnya saat pertama ditemukan.
Media cetak sendiri memiliki kekurangan dan kelebihan.

Kekurangan media cetak adalah tidak dapat menyajikan berita secara real time karena terpaut terhadap waktu terbit. Disamping kekurangan tersebut, media cetak memiliki kelebihan yang dapat menutupi kekurangan tersebut sehingga tetap dicintai oleh penggemar berita seperti, dapat kita miliki sehingga dapat kita baca kapanpun dan dimanapun serta analisis beritanya lebih mendalam, tajam, dan luas karena tidak terpaut pada ruang dan waktu.

Maksudnya, media cetak tidak ada batasan mencari informasi dan tidak ada batasan menyajikan berita. Zaman saat ini sudah berkembang. Dalam era digital, peran media bertansisi ke arah online dan elektronik ketimbang media cetak.

Di era digital ini penggunaan internet merupakan langkah bijak menghemat tenaga dalam mencari materi di internet cenderung lebih mutakhir. Internet yang tak mengenal batas geografis juga menjadikannya sebagai sarana ideal penyebaran informasi.

Sekarang ini, hampir semua orang mengenal internet. Berdasarkan data Internet World Stats, jumlah pengguna internet sudah lebih dari 2,2 miliar orang atau hampir sepertiga dari jumlah penduduk dunia. Angka tersebut berpeluang besar bertambah mengingat akses internet kian mudah.

Dulu, selain memanfaatkan fasilitas di kantor, orang harus ke warung atau kafe internet untuk bisa menjelajahi dunia maya. Kini, internet bisa diakses di mana saja, kapan saja. Tren ini tidak hanya membawa dampak pada inovasi teknologi dan pertumbuhan pasar elektronik, tapi juga pada perkembangan bisnis media.

Sejak awal tahun 2000an, media online banyak bermunculan. Menyuguhkan berita-berita terkini, keberadaan media online pelan-pelan menggeser eksistensi media cetak. Dulu, media cetak seperti koran, majalah dan tabloid menjadi acuan masyarakat dalam mendapatkan informasi terkini tentang peristiwa yang terjadi di sekitar mereka maupun di dunia internasional.

Kini, masyarakat lebih memilih mengakses media online untuk mengetahui berita maupun perkembangan terbaru. Media online turut mempermudah akses informasi itu dengan memanfaatkan sosial media seperti Twitter dan Facebook sebagai sarana menyebarluaskan berita terbaru yang sudah diunggah tim redaksi.

Transisi dari media cetak ke arah media yang berbasis pada proses digital atau bisa dikatakan online, akan menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana peranan dan eksistensi ,media cetak di masyarakat. Tak bisa dipungkiri teknologi memberikan kemudahan bagi masyarakat terutama dalam mendapatkan informasi.

Lewat media digital, semua informasi bisa didapatkan dalam waktu yang relatif cepat. Hal ini juga yang membuat banyak media cetak mulai beralih mendigitalkan lembaran beritanya seperti Tempo yang kini telah hadir dalam format korantempo.com, tempo.com, dan majalah digital dengan akses berbayar.

Di Indonesia sendiri mungkin terlalu cepat mengatakan media cetak akan mati digantikan media digital. Namun, terlalu naïf juga menyatakan media cetak akan terus hidup. Nyatanya, kita tak pernah tahu sampai kapan eksistensi media cetak akan terus terjaga sementara media digital terus berkembang di tengah semakin maraknya manusia-manusia melek digital dilihat dari tingkat penggunaan smartphone yang tak pandang status sosial.

Beberapa kalangan beranggapan media cetak akan tetap eksis karena perasaan berbeda pasti timbul ketika seseorang membaca majalah yang bisa dipegang dibandingkan dengan membaca majalah digital lewat perangkat elektronik seperti telepon genggam, laptop, tab, pad, maupun notebook.

Namun, hal ini masih bisa bergeser dengan perkembangan teknologi yang kian pesat. Awal tahun 2000-an, orang masih kaku dan jarang menggunakan laptop atau notebook. Namun hal itu telah berubah, setiap orang sudah tak asing lagi dengan laptop dan notebook bahkan kemunculan tab dan pad semakin memudahkan masyarakat dalam mengakses internet yang malahan lebih praktis dibandingkan harus membawa majalah kemana-mana.

Media cetak memang akan tetap ada, namun seberapa mampukah mereka bertahan di tengah biaya percetakan dan distribusi yang kian meningkat? Selain itu perlu pula bagi media cetak untuk menyajikan diri sebagai media yang benar-benar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yang kini telah lebih ‘mobile’.

Mungkin tak jadi masalah ketika media cetak tetap ada, namun eksistensinya perlu ditilik lebih lanjut lagi apakah masih mampu mengimbangi pesatnya perkembangan media digital.
Untuk menghadapi ketatnya persaingan media, media cetak dan online harus saling bersinergi.

Pada era konvergensi media saat ini, perusahaan industri media cetak tak bisa hanya mengandalkan satu media. Kini banyak perusahaan pers yang memiliki media online maupun elektronik disamping media cetak seperti koran harian Kompas memiliki situs online kompas.com dan stasiun televisi Kompas TV, Media Indonesia memiliki situs online mediaindonesia.com.

Sebagian besar berita dari media online akan menyampaikan informasi yang bersifat breaking news dan untuk finishing akan disampaikan melalui media cetak sehingga keduanya bersinergi. Dengan memiliki media yang lebih dari suatu perusahaan pers, mereka dapat menjangkau lebih banyak khalayak dari segala penjuru.

Pembaca pun lebih dimudahkan dalam mengakses informasi dari satu perusahaan media yang sama. Selain itu, terbuka pula peluang bisnis bagi para pengiklan karena berbagai media yang dimiliki perusahaan tersebut. Iklan inilah yang menjadi sumber modal perusahaan industri media cetak demi keberlangsungan hidupnya.

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Negeri Makassar Jurusan Ilmu Sosiologi

Comment here