Opini Publik

Burung Garuda Terbang Jauh Meninggalkan Pesta

Oleh Muh. Ikbal

Sejarah harus mencatat satu lagi kelam, yang entah dengan apa atau bagaimana generasi 20  tahun  mendatang mencerna ini. Bagaimana buku-buku pelajaran bersertifikasi yang menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah umum nanti memuat rangkaian pesta yang menghilangkan nyawa orang. Adalah sebuah dosa besar jika kita akhirnya pasrah dan berkata “jadikan ini sebagai pelajaran bangsa yang senantiasa bergerak maju”.

21 Tahun berjalannya reformasi, pembungkaman berganti menjadi demokrasi tapi sayang “bebas nilai”. Dampaknya, korban berjatuhan pada aksi massa (22 mei) dan jutaan rakyat yang menjadi pemarah juga saling membenci. Dan ini tidak terlepas dari elit politik yang kian massif memancing emosi rakyat. 

Tulisan ini mencoba menyoal tentang malapetaka demokrasi saat ini dan juga tentang bagaimana kita musti bersikap. Karena akhirnya perkembangan dan kemajuan teknologi tengah menghantarkan kita, rakyat indonesia melewati pintu gerbang demokrasi seperti yang dikhawatirkan Plato bahwa demokrasi yang berarti bebas, akan berdampak pada kekacauan.

Bagaimana perkembangan teknologi menjadi salah satu peyebab ? Sedikit tentang Algoritma sebagai sebuah generasi terbaru dari teknologi, algoritma adalah sejenis kode pada internet yang salah satu fungsinya adalah untuk mengarahkan pengguna menemukan orang-orang terdekatnya di media sosial, atau juga memfilter berita-berita yang disukai, sering dibaca atau laman yang sering dikunjungi para pengguna internet.

Singkatnya, semisal Si Fulan adalah pendukung calon tertentu, dan sering memuat berita terkait, maka algoritma bekerja keras merekomendasikan informasi sejenis. Celakanya pemberitaan-pemberitaan tentang Pilpres sekarang hanya menyentuh sisi emosi, jauh dari norma-norma etik dan kadang abai dengan kebenaran ilmiah. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh elit politik untuk memancing emosi rakyat.

Beberapa waktu yang lalu media (Kompas) Cetak memuat penuturan Craig dan Keilburger, kedua Co-Funder WE Movement ini mengungkapkan kurang lebih seperti berikut, bahwa “ketika informasi yang didapatkan hanya sesuai kesukaan atau kebutuhan, kita sebenarnya tidak tahu informasi apa yang kita lewatkan. Internet memang mendistribusikan ide-ide hebat, namun alih-alih memperluas wawasan, hal sebaliknya terjadi”.

Tapi ini bukan berarti bahwa bangsa kita belum siap hidup di jaman digital, ini tentang pertarungan dua kelompok elit politik yang minim sisi kenegarawanannya. Bagaimana tidak, konfrensi pers yang digelar setelah kejatuhan beberapa korban peserta aksi pun hanya sekedar cuci tangan agar keduanya tidak dipersalahkan oleh publik, dan seolah sedang baik-baik saja.

Tragedi meninggalnya 500-an penyelenggara beberapa waktu yang lalu, ditambah tragedi (22 mei) hari ini seharusnya menjadi dasar yang kuat untuk ke dua kelompok tersebut berunding, kemudian membuat beberapa kesepakatan, seperti berikut :  

  1. Pemberhentian sementara seluruh rangkaian pemilu demi sterilisasi kekacauan di publik.
  2. Setelah rangkaian pemilu dinyatakan ditunda, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya pemerintah mesti mengusut tuntas penyebab meninggalnya ratusan penyelenggara pemilu, yang menjadi pertanyaan besar dan salah satu penyebab kekacauan di publik.  kemudian menjelaskan kepada masyarakat secara transparan.
  3. Menjelaskan secara detail kronologi meninggalnya 6 orang peserta aksi 22 mei.
  4. Hentikan sementara pemberitaan apapun yang  berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu baik di internet, Tv, juga media cetak.
  5. Menghimbau kepada kepolisian dan TNI yang bertugas mengawal aksi massa 22 mei sampai selesai, agar tetap mengedapankan prinsip Hak Asasi Manusia. Begitupun dengan peserta aksi.
  6. Kedua kelompok elit yang bertarung pada pemilu ini  dan negara, harus memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penyelenggara pemilu yang gugur.

 Atau jika ini tetap kita biarkan berlarut-larut maka, saling klaim kemenangan, saling menjatuhkan, dan saling menebar kebencian tetap ada. Dan dampaknya ada pada masyarakat yang keamanannya terganggu, juga ada pada warga negara yang larut dalam kebencian yang akhirnya siap mengambil resiko. Langkah seperti diastalah yang seharusnya diambil, tidak hanya dengan sekedar konfrensi pers yang di bumbuhi retorik “ayo rajut kebersamaan, atau jangan rusak kebangsaan kita”.

Ini sudah terlambat dan tidak merubah sesuatu pun diantara korban yang berjatuhan, sekali lagi bangsa ini, kirisis negarawan. Burung Garuda yang membawa simbol-simbol persatuan dan kesatuan, tengah pergi jauh meninggalkan sebuah pesta para elit. “Garuda tidak hadir pada masa Pemilu para oligarki”

*Penulis adalah mahasiswa STIE AMKOP Makassar

Comment here